Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,danMenyenangkan
(PAKEM)
A. PENGANTAR
Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu
baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Pembeajaran ibarat
jantung dari proses pendidikan. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan
lulusan dengan hasil belajar yangbaik pula. Demikian pula sebaliknya.Hasil
belajar pendidikan di Indonesia masihdipandang kurang baik. Sebagian besar
siswa belum mampu menggapai potensi ideal/optimal yang dimilikinya. Oleh karena
itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah
berlangsungselama ini. Pembelajaran yang saat ini dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh
pelosoktanah air adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
atau isingkat dengan PAKEM. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang
agar mengaktifkan
anak,
mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan. Hal ini sejalan dengan amanat Permendiknas No 41 Tahun 2007 “Proses
pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasiaktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.Unit ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
tentang apa, mengapa, dan bagaimana pelaksanaan PAKEM, serta prosedur atau
langkah-langkah pelatihan yangbisa dilakukan. Dengan membaca dan mengikuti
proses-proses pelatihan yang telah dirancang dalam Unit ini, para peserta
pelatihan diharapkan dapat mengenal apa, mengapa, dan bagaimana PAKEM tersebut,
dan pada akhirnya diharapkan dapat menerapkan di kelasnya masing-masing.
APA ITU PAKEM?
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru
harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif berpikir,
bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan, bereksperimen, mempraktikkan
konsepyang dipelajari, dan berkreasi. Belajar memang merupakan suatu proses
aktif dari sipembelajar dalam membangun pengetahuannya; bukan proses pasif yang
hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran
tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir aktif, maka
pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Suatu konsep (misalnya
demokrasi, kerjasama, fotosintesa, penjumlahan, dan kebersihan) yang dijelaskan
melalui ceramah sebenarnya sangat sulit dipahami siswakarena konsep tersebut
disampaikan secara abstrak. Hal yang abstrak sulit dipahamikarena tingkat
berfikir anak-anak yang cenderung kongkrit atau mencari bentuknyata. Jika
dalam mengajar guru menggunakan media seperti gambar, film, peragaan, dan
sebagainya maka konsep yang dipelajari menjadi lebih kongkrit (nyata)dan lebih
mudah dipahami anak.Namun, yang paling bisa membuat konsep menjadi kongkrit
adalah ketika anak terlibat dalam pengalaman langsung dan aktif menemukan
sendiri dari pengalaman tersebut suatu konsep yang menjadi tujuan pembelajaran.
Misalnya, anak-anak menemukan sendiri makna dari penjumlahan setelah mereka
terlibat dalam kegiatan jumlah
menjumlah menggunakan benda nyata (kacang merah,
batu-batuan, penjepit kertas misalnya). Contoh lain, siswa memahami konsep
demokrasi setelah mereka terlibat
aktif dalam penerapan prinsip-prinsip demokrasi
dan musyawarah dalam kegiatan pemilihan ketua kelas yang dirancang serius oleh
guru. Pengalaman nyata dan proses penerapan tersebut memberikan cara bagi mereka
untuk membangun pemahamansendiri secara aktif tentang konsep penjumlahan dan
demokrasi.Di bawah ini adalah bagan dari Edgar Dale (1946) yang menunjukkan
macam media atau kegiatan yang bisa dipakai untuk mengajarkan suatu konsep dan
hubungannya dengan tingkat kekongkritan konsep yang bisa tersampaikan.
Pembelajaran yang bergantunghanya pada verbal saja (ceramah, membaca)
mengandung tingkat keabstrakan palingtinggi, sedangkan pengalaman langsung yang
membuat siswa aktif menemukan danmenerapkan suatu konsep memiliki tingkat
kekongkritan yang paling tinggi
Pesan dari bagan Edgar Dale tersebut diperkuat
oleh kata-kata Confucius, orangbijak dari Timur, sebagai berikut:
- Yang saya dengar, saya lupa
- Yang saya lihat, saya ingat
- Yang saya kerjakan, saya pahami
- Melv in L. Silberman penulis “101 Cara Belajar Aktif” mendukung juga keaktifan siswa untuk memberikan hasil belajar yang maksimal dengan mengatakan:
Yang saya dengar dan lihat, saya ingat
Yang saya dengar, lihat, tanyakan, atau diskusikan, saya mulai
pahami
Yang saya dengar, lihat, dan
diskusikan, serta lakukan, saya memperoleh pengetahuan
dan keterampilanYang saya
ajarkan kepada orang lain, saya kuasai
Peran aktif dari siswa sangat penting dalam
rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk
kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan
kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa
yang bisa mengoptimalkan
potensi diri siswa. Karena dalam PAKEM siswa
banyak bekerja dan berbuat maka terdapat banyak kesempatan bagi siswa untuk
menghasilkan produk belajar. Produk
itu bisa berupa karya seni, jalan keluar terhadap
suatu permasalahan, grafik, diagram,tabel, puisi, karangan, pantun, lagu,
tarian, model tiga dimensi, dan lain - lain. Dengan
demikian, daya imajinasi dan daya cipta/kreasi
siswa bisa berkembang denganoptimal. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang jauh dari rasa bosan dan
takut
sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya
secara penuh pada pembelajaran sehingga waktu curah perhatiannya pada
pembelajaran tinggi. Menurut hasil penelitian,
tingginya waktu curah perhatian terbukti
meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktifdan menyenangkan tidaklah cukup jika
proses pembelajaran tidak efektif. Proses
pembelajaran yang efektif menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa
setelah prosespembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah
tujuan pembelajaran
yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif
dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya
seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan
sebagai berikut:
- Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
- Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat belajar siswa dan membantu siswa membangun pengetahuan danpemahaman. Cara-cara tersebut diantaranya adalah menggunakan lingkungan sebagaisumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
- Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebihmenarik dan menyediakan ‘pojok baca’.
- Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk carabelajar kelompok.
- Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatumasalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakanlingkungan sekolahnya.
- Peran guru lebih sebagai fasilitator daripada penceramah, artinya guru mendesainkegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Selama kegiatanpembelajaran, guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas tetapi berkeliling memantaukegiatan siswa dan membantu siswa dalam proses belajar.
APA YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM
MELAKSANAKANPAKEM?
1. Memahami sifat dasar anak
Pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu dan suka berimajinasi. Anak desa,anak kota, anak orang kaya, anak
orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukanIndonesia — selama mereka normal —
terlahir memiliki kedua sifat itu. Keduasifat tersebut merupakan modal dasar
bagi berkembangnya sikap/berpikir kritisdan kreatif. Kegiatan pembelajaran
merupakan salah satu lahan yang harus kitaolah sehingga subur bagi
berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut.Suasana pembelajaran yang
ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasilkaryanya, guru mengajukan
pertanyaan yang menantang, dan guru yangmendorong anakuntuk melakukan
percobaan, misalnya, merupakan pembelajaranyang subur bagi rasa ingin tahu dan
imajinasi tersebut.
2. Mengenal perbedaan setiap anak
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang
bervariasi dan memilikikemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif,
Efektif danMenyenangkan)perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus
tercermindalam kegiatan pembelajaran. Karena itu semua anak dalam kelas tidak
harusselalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan bisa berbeda sesuai
dengankecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih
dapatdimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Denganmengenal kemampuan anak, kita dapat
membantunya ketika dia mendapatkesulitan sehingga anak tersebut bisa belajar
secaraoptimal
3. Memahami anak sebagai makhluk sosial
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara
alami cenderung melibatkan anak laindalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar.Dalam melakukan tugas atau membahas
sesuatu, anak dapat bekerja berpasanganatau dalam kelompok. Berdasarkan
pengalaman, anak akan menyelesaikan tugasdengan baik bila mereka duduk
berkelompok. Duduk seperti ini memudahkanmereka untuk berinteraksi dan bertukar
pikiran. Namun demikian, anak perlujuga menyelesaikan tugas secara perorangan agar
bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
kreatif, dan kemampuanmemecahkan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering
menghadapi masalah sehingga padadasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah.
Keterampilan pemecahanmasalah memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Kritis untukmenganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif
pemecahan masalah.Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal
dari rasa ingin tahu danimajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir.
Oleh karena itu, tugas guruadalah mengembangkannya,
antara lain dengan sesering mungkin memberikantugas atau mengajukan pertanyaan
yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengankata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan
katakata“Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban yang betul
hanyasatu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai
lingkungan belajar yangmenyenangkan
Ruang kelas yang menyenangkan merupakan unsur tak
terpisahkan dari PAKEM.Dalam kelas yang menerapkan PAKEM, anak-anak banyak
belajar melalui bekerjadan berbuat sehingga banyak menghasilkan produk. Hasil
pekerjaan siswatersebut sebaiknya dipajangkan untuk membuat kelas menjadi hidup
dan menarik.Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan bisa memotivasi siswa
untuk bekerjalebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang
dipajangkan dapatberupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok.
Pajangan dapatberupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan,
dan sebagainya.Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa mempunyai karyanya
yangdipajangkan. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa
danditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat
dijadikanrujukan ketika membahas suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber
belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan
sumber yang sangat kayauntuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan
sebagai media belajar, tetapijuga sebagai objek kajian (sumber belajar).
Penggunaan lingkungan sebagai sumberbelajar sering membuat anak merasa senang
dalam belajar. Belajar denganmenggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar
kelas. Bahan dari lingkungandapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya
dan waktu. Pemanfaatanlingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan
seperti mengamati(dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis(membuat dugaan), mengklasifikasikan,
membuat tulisan, dan membuatgambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk
meningkatkan kegiatan BelajarMutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam
belajar. Pemberianumpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu
bentuk interaksi antaraguru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap
kekuatan daripadakelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun
harus secarasantun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam
menghadaptugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil
pekerjaansiswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru yang
berkaitandengan pekerjaan siswa lebihbermakna bagi pengembangan diri siswa daripadahanya
sekedar angka (nilai).
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif
mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila
menyaksikan para siswa kelihatan sibukbekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku
dan meja diatur berkelompok sertasiswa duduk saling berhadapan. Keadaan
tersebut bukanlah ciri yang sebenarnyadari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan
daripada aktif fisik. Sering bertanya,mempertanyakan gagasan orang lain, dan
mengungkapkan gagasan merupakantanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya
aktif mental adalah tumbuhnyaperasaan tidak takut. Banyak siswa merasa takut
ditertawakan, takutdisepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena
itu, guru hendaknyamenciptakan suasana kelas di mana guru tidak marah kepada siswa dan
siswatidak menertawakan siswa lain jika mereka memberi jawaban yang tidak
benar.Siswa harus didorong untuk mencoba, dan berbuat kesalahan adalah
bagianpenting dari belajar. Guru juga tidak menyepelekan siswa. Pada dasarnya
guruharus berusaha menghilangkan penyebab rasa takut, baik yang datang dari
guruitu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut
sangatbertentangan dengan PAKEM.
Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM
diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM). Pada saat yang sama, gambaran tersebutmenunjukkan kemampuan
yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel
beberapa contoh KBM dan kegiatan guru
Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 044/U/2002 Komite Sekolah berperan sebagai:
- Pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan disatuan pendidikan.
- Pendukung (baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga) dalampenyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
- Pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaranpendidikan di satuan pendidikan.
- Mediator antara sekolah dengan pemerintah dan masyarakat di satuan pendidikan.
Peran tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk fungsi nyata
dalam penyelenggaraanpersekolahan terutama dalam meningkatkan mutu
pembelajaran. Fungsi nyata KomiteSekolah dalam pengembangan pembelajaran adalah
sebagai berikut:
- Membantu sekolah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (sesuaidengan UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 36 Ayat 2).
- Mendorong tumbuhnya perhatian dan dukungan masyarakat terhadap penyelenggaraanpembelajaran yang bermutu.
- Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha/ duniaindustri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran yangbermutu.
- Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan gunamendukung peningkatan mutu pembelajaran.
- Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pembelajaranyang bermutu.
6.
Melakukan
evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan,dan
keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
Dukungan bagi pelaksanaan PAKEM tidak hanya datang dari Komite
Sekolah saja tetapi juga dari masyarakat dan orangtua siswa. Pasal 9 UU
Sisdiknas No. 20/2003 menyatakanbahwa masyarakat berkewajiban memberikan
dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat dapat terlibat
dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung, ruang kelas, pagar, dan
sebagainya. Masyarakat juga sebetulnya dapat terlibat dalam bidang Teknis
Edukatif, seperti dalam proses belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, membicarakan
pelaksanaan kurikulum, memantau kemajuan belajar, dan sebagainya.
Orangtua juga harus berperan serta dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam pelaksanaan PAKEM orangtua dapat berperan:
- Menjadi mitra anak dalam belajar di rumah.
- Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan PAKEM.
- Menciptakan situasi belajar yang kondusif bagi pengembangan kreativitas anak,misalnya dengan banyak memberikan pertanyaan, mengecek hasil karya anak, danmendorong kreativitas anak Lembaran: Contoh Proses Pembelajaran PAKEM
4.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar