Minggu, 17 September 2017

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,danMenyenangkan 
(PAKEM)

A. PENGANTAR
             Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Pembeajaran ibarat jantung dari proses pendidikan. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil belajar yangbaik pula. Demikian pula sebaliknya.Hasil belajar pendidikan di Indonesia masihdipandang kurang baik. Sebagian besar siswa belum mampu menggapai potensi ideal/optimal yang dimilikinya. Oleh karena itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsungselama ini. Pembelajaran yang saat ini dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh pelosoktanah air adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau isingkat dengan PAKEM. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan anak, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan. Hal ini sejalan dengan amanat Permendiknas No 41 Tahun 2007 “Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasiaktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.Unit ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang apa, mengapa, dan bagaimana pelaksanaan PAKEM, serta prosedur atau langkah-langkah pelatihan yangbisa dilakukan. Dengan membaca dan mengikuti proses-proses pelatihan yang telah dirancang dalam Unit ini, para peserta pelatihan diharapkan dapat mengenal apa, mengapa, dan bagaimana PAKEM tersebut, dan pada akhirnya diharapkan dapat menerapkan di kelasnya masing-masing.

APA ITU PAKEM?
              PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif berpikir, bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan, bereksperimen, mempraktikkan konsepyang dipelajari, dan berkreasi. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari sipembelajar dalam membangun pengetahuannya; bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Suatu konsep (misalnya demokrasi, kerjasama, fotosintesa, penjumlahan, dan kebersihan) yang dijelaskan melalui ceramah sebenarnya sangat sulit dipahami siswakarena konsep tersebut disampaikan secara abstrak. Hal yang abstrak sulit dipahamikarena tingkat berfikir anak-anak yang cenderung kongkrit atau mencari bentuknyata. Jika dalam mengajar guru menggunakan media seperti gambar, film, peragaan, dan sebagainya maka konsep yang dipelajari menjadi lebih kongkrit (nyata)dan lebih mudah dipahami anak.Namun, yang paling bisa membuat konsep menjadi kongkrit adalah ketika anak terlibat dalam pengalaman langsung dan aktif menemukan sendiri dari pengalaman tersebut suatu konsep yang menjadi tujuan pembelajaran. Misalnya, anak-anak menemukan sendiri makna dari penjumlahan setelah mereka terlibat dalam kegiatan jumlah
menjumlah menggunakan benda nyata (kacang merah, batu-batuan, penjepit kertas misalnya). Contoh lain, siswa memahami konsep demokrasi setelah mereka terlibat
aktif dalam penerapan prinsip-prinsip demokrasi dan musyawarah dalam kegiatan pemilihan ketua kelas yang dirancang serius oleh guru. Pengalaman nyata dan proses penerapan tersebut memberikan cara bagi mereka untuk membangun pemahamansendiri secara aktif tentang konsep penjumlahan dan demokrasi.Di bawah ini adalah bagan dari Edgar Dale (1946) yang menunjukkan macam media atau kegiatan yang bisa dipakai untuk mengajarkan suatu konsep dan hubungannya dengan tingkat kekongkritan konsep yang bisa tersampaikan. Pembelajaran yang bergantunghanya pada verbal saja (ceramah, membaca) mengandung tingkat keabstrakan palingtinggi, sedangkan pengalaman langsung yang membuat siswa aktif menemukan danmenerapkan suatu konsep memiliki tingkat kekongkritan yang paling tinggi

Pesan dari bagan Edgar Dale tersebut diperkuat oleh kata-kata Confucius, orangbijak dari Timur, sebagai berikut:
  •  Yang saya dengar, saya lupa
  •  Yang saya lihat, saya ingat
  •  Yang saya kerjakan, saya pahami
  •  Melv in L. Silberman penulis “101 Cara Belajar Aktif” mendukung juga keaktifan           siswa untuk memberikan hasil belajar yang maksimal dengan mengatakan:  
            Yang saya dengar, saya lupa
              Yang saya dengar dan lihat, saya ingat
              Yang saya dengar, lihat, tanyakan, atau diskusikan, saya mulai pahami
              Yang saya dengar, lihat, dan diskusikan, serta lakukan, saya memperoleh pengetahuan      
             dan  keterampilanYang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai

Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa yang bisa mengoptimalkan
potensi diri siswa. Karena dalam PAKEM siswa banyak bekerja dan berbuat maka terdapat banyak kesempatan bagi siswa untuk menghasilkan produk belajar. Produk
itu bisa berupa karya seni, jalan keluar terhadap suatu permasalahan, grafik, diagram,tabel, puisi, karangan, pantun, lagu, tarian, model tiga dimensi, dan lain - lain. Dengan
demikian, daya imajinasi dan daya cipta/kreasi siswa bisa berkembang denganoptimal.  Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang jauh dari rasa bosan dan takut
sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya secara penuh pada pembelajaran sehingga waktu curah perhatiannya pada pembelajaran tinggi. Menurut hasil penelitian,
tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktifdan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif. Proses
pembelajaran yang efektif menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah prosespembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran
yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
  1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
  2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat belajar siswa dan membantu siswa membangun pengetahuan danpemahaman. Cara-cara tersebut diantaranya adalah menggunakan lingkungan sebagaisumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
  3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebihmenarik dan menyediakan ‘pojok baca’.
  4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk carabelajar kelompok.
  5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatumasalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakanlingkungan sekolahnya.
  6. Peran guru lebih sebagai fasilitator daripada penceramah, artinya guru mendesainkegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Selama kegiatanpembelajaran, guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas tetapi berkeliling memantaukegiatan siswa dan membantu siswa dalam proses belajar.


APA YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKANPAKEM?
1.  Memahami sifat dasar anak
Pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu dan suka berimajinasi. Anak desa,anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukanIndonesia — selama mereka normal — terlahir memiliki kedua sifat itu. Keduasifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritisdan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kitaolah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut.Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasilkaryanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yangmendorong anakuntuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaranyang subur bagi rasa ingin tahu dan imajinasi tersebut.
2.  Mengenal perbedaan setiap anak
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memilikikemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Efektif danMenyenangkan)perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermindalam kegiatan pembelajaran. Karena itu semua anak dalam kelas tidak harusselalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan bisa berbeda sesuai dengankecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapatdimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Denganmengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya ketika dia mendapatkesulitan sehingga anak tersebut bisa belajar secaraoptimal
3.  Memahami anak sebagai makhluk sosial
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami cenderung melibatkan anak laindalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar.Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasanganatau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugasdengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkanmereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlujuga  menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4.  Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuanmemecahkan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi masalah sehingga padadasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Keterampilan pemecahanmasalah memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untukmenganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah.Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu danimajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guruadalah  mengembangkannya, antara lain dengan sesering mungkin memberikantugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengankata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan katakata“Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban yang betul hanyasatu).
5.  Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yangmenyenangkan
Ruang kelas yang menyenangkan merupakan unsur tak terpisahkan dari PAKEM.Dalam kelas yang menerapkan PAKEM, anak-anak banyak belajar melalui bekerjadan berbuat sehingga banyak menghasilkan produk. Hasil pekerjaan siswatersebut sebaiknya dipajangkan untuk membuat kelas menjadi hidup dan menarik.Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan bisa memotivasi siswa untuk bekerjalebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapatberupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapatberupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya.Guru perlu memastikan bahwa setiap siswa mempunyai karyanya yangdipajangkan. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa danditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikanrujukan ketika membahas suatu masalah.
6.  Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kayauntuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapijuga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumberbelajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar denganmenggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungandapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatanlingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati(dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis(membuat dugaan),  mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuatgambar/diagram.
7.  Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan BelajarMutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberianumpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antaraguru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripadakelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secarasantun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadaptugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaansiswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru yang berkaitandengan pekerjaan siswa lebihbermakna bagi pengembangan diri siswa daripadahanya sekedar angka (nilai).
8.       Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibukbekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok sertasiswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnyadari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakantanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnyaperasaan tidak takut. Banyak siswa merasa takut ditertawakan, takutdisepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknyamenciptakan suasana kelas di  mana guru tidak marah kepada siswa dan siswatidak menertawakan siswa lain jika mereka memberi jawaban yang tidak benar.Siswa harus didorong untuk mencoba, dan berbuat kesalahan adalah bagianpenting dari belajar. Guru juga tidak menyepelekan siswa. Pada dasarnya guruharus berusaha menghilangkan penyebab rasa takut, baik yang datang dari guruitu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangatbertentangan dengan PAKEM.

Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pada saat yang sama, gambaran tersebutmenunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh KBM dan kegiatan guru
Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 044/U/2002 Komite Sekolah berperan sebagai:
  1. Pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan disatuan pendidikan.
  2.  Pendukung (baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga) dalampenyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
  3. Pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaranpendidikan di satuan pendidikan.
  4. Mediator antara sekolah dengan pemerintah dan masyarakat di satuan pendidikan.

Peran tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk fungsi nyata dalam penyelenggaraanpersekolahan terutama dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Fungsi nyata KomiteSekolah dalam pengembangan pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Membantu sekolah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (sesuaidengan UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 36 Ayat 2).
  2. Mendorong tumbuhnya perhatian dan dukungan masyarakat terhadap penyelenggaraanpembelajaran yang bermutu.
  3. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha/ duniaindustri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran yangbermutu.
  4. Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan gunamendukung peningkatan mutu pembelajaran.
  5. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pembelajaranyang bermutu.

6.         Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan,dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
Dukungan bagi pelaksanaan PAKEM tidak hanya datang dari Komite Sekolah saja tetapi juga dari masyarakat dan orangtua siswa. Pasal 9 UU Sisdiknas No. 20/2003 menyatakanbahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung, ruang kelas, pagar, dan sebagainya. Masyarakat juga sebetulnya dapat terlibat dalam bidang Teknis Edukatif, seperti dalam proses belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, membicarakan pelaksanaan kurikulum, memantau kemajuan belajar, dan sebagainya.
Orangtua juga harus berperan serta dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan PAKEM orangtua dapat berperan:
  1. Menjadi mitra anak dalam belajar di rumah.
  2. Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan PAKEM. 
  3. Menciptakan situasi belajar yang kondusif bagi pengembangan kreativitas anak,misalnya dengan banyak memberikan pertanyaan, mengecek hasil karya anak, danmendorong kreativitas anak                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Lembaran: Contoh Proses Pembelajaran PAKEM

4.          


Tidak ada komentar: